1Inilah kumpulan kata-kata bijak dari Salomo anak Daud, raja Israel.
2Nasihat-nasihat ini ditulis untuk mengajarkan cara hidup yang bijaksana
3agar orang memperoleh didikan tentang cara bersikap bijaksana
4Nasihat-nasihat ini memberi pengajaran bagi orang yang tidak berpengalaman1:4 tidak berpengalaman Frasa ‘tidak berpengalaman’ dalam kitab ini menerjemahkan kata Ibrani yang mengandung arti luas, antara lain berwawasan sempit, naif, tidak tahu banyak tentang kehidupan, dan sejenisnya. agar lebih berwawasan,
5Mari, siapa yang bijaksana, dengarkanlah nasihat ini agar kamu semakin bijak.
6agar kamu dapat menyelami makna peribahasa, perumpamaan, petuah, dan teka-teki
7Sikap hormat dan takut akan TUHAN adalah cara yang pertama dan terutama untuk menjadi bijak,
8Anakku, dengarkanlah nasihat ayahmu,
9Karena nasihat dan didikan orangtuamu ibarat mahkota yang akan membuat engkau dihormati,
10Anakku, janganlah tergoda bila orang berdosa membujukmu mengikuti perbuatan mereka!
11Anakku, jangan mengikuti jalan hidup mereka!
12Orang-orang itu cepat berbuat jahat
13Hikmat1:20 Hikmat Mulai ayat ini dan sampai ayat 33, Raja Salomo menggunakan gaya bahasa personifikasi— artinya, hikmat digambarkan seperti seorang figur yang melakukan berbagai peran layaknya manusia. Personifikasi serupa dipakai lagi di beberapa perikop dalam pasal 3-4 dan 8-9. Untuk setiap personifikasi, TSI menggunakan huruf H kapital pada kata ‘Hikmat’ guna mencerminkan hikmat seperti suatu pribadi. Dalam kitab Amsal dan Pengkhotbah, Salomo menekankan agar manusia mencari ‘kebijaksanaan’, baik dengan berpikir, belajar dari orang lain, maupun lewat pengalaman. Namun, meski seakan didapat dengan cara-cara yang alamiah, Alkitab menegaskan bahwa sebenarnya segala kebijaksanaan berasal dari Allah (Ams. 2:6). Demi kejelasan, TSI membedakan penggunaan kata ‘hikmat’ dan ‘kebijaksanaan’. ‘Hikmat’ dipakai dalam dua konteks: 1) Ketika suatu pemikiran bijaksana didapat manusia dengan cara ajaib atau inspirasi langsung dari Allah (Kis. 6:10; 9:22). 2) Ketika menerjemahkan personifikasi hikmat sebagai suatu figur/pribadi. Sebaliknya, kata ‘kebijaksanaan’ digunakan ketika ayat berbicara tentang sikap bijaksana yang didapat dengan cara alamiah. Kedua istilah tersebut juga dapat dipakai sebagai sifat Allah sendiri (Ams. 3:19-20). ibarat seorang guru yang berseru di jalan-jalan,
14Di persimpangan jalan dia berteriak mengundang orang banyak,
15“Hai orang-orang yang tidak berpengalaman, sampai kapan kalian senang tinggal dalam kebodohanmu?
16Bila kalian mau berbalik dan memperhatikan teguranku,
17Tetapi Hikmat itu juga ibarat guru yang mengeluh,
18Kalian mengabaikan semua nasihatku
19“Ketika itu, kalian akan berteriak minta tolong kepadaku, tetapi aku tidak akan menjawab.
20Mengapa? Karena kalian membenci pengetahuan
21Kalian menolak nasihatku
22Itu sebabnya kalian akan menanggung akibat perbuatanmu sendiri.
23Orang yang tak berpengalaman akan ikut jalan sesat lalu binasa.
24Tetapi orang yang mendengarkan aku akan hidup tenteram.